stalking kakak tingkat
Pagi akan segera tiba.
Adinda segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kampus bersama teman
sekamarnya bahkan teman sekelasnya bernama Meta. Meta yang hobinya stalking
orang sampai keakar-akarnya ini. tapi hanya khusus orang tampan saja ia
stalking. “cepatan mandi sana sudah jam setengah 7 nih, masih main hp aja”.
Kata Adinda baru saja selesai mandi. “iyaa, bawel banget sih”. Kata meta segera
ambil handuk.
Sudah sampai di kampus Adinda sama meta berjalan
dilorong-lorong kelas. Ketika mau masuk ke kelasnya, meta lihat sebuah pamflet
di mading.“oh, ternyata dia wakil ketua BEM, aku harus ikutan nih”. Meta
berseru. “lihat apaan sih?” Tanya adinda yang penasaran sambil mencari pamflet.
“ini loh, ada open recruitment anggota bem. Kamu nggak ikutan din?” Tanya meta.
“hmm.. pengen sih tapi nggak tahu deh. Bingung”, jawab adinda dengan jawaban
masih bimbang. “mudahan besok diinterview sama kak Lauzi, pokoknya aku harus
interview balik. Tapi mau nanya apa ya?” dengan penuh harap. “nggak usah ngayal
deh niatnya itu berkontribusi dan berkomitmen, bukan mencari gebetan! noh dosen
otw ke kelas “. Sahut adinda. Melihat
dosen yang akan memasuki ke kelasnya mereka.
Ketika sore hari, lagi duduk santai mengerjakan tugas.
Meta lagi asyik main hp biasa stalking kakak tingkatnya itu loh. Yang terkenal
sebagai wakil ketua BEM, tanpa disadari adinda yang ada di belakangnya ikut
juga melihat layar hpnya meta. “stalking dia saja terus. Biar dia stalking
balik gitu. Kenal saja nggak”. Sahut Adinda dengan wajah sinisnya. “ihh.. apaan
sih, kalau kamu mau stalking dia juga nggak usah ikut nimbrung dihp aku dong”.
Balas meta. “alah.. apa gantengnya dia coba, Cuma menang nampang muka doang.
Terus dia modusin deh, pas lagi PDKTnya ehh.. malah ngilang. Semua cowok sama saja
ya”. Adinda sepertinya belum siap membuka hatinya. “bilang saja kamu masih
trauma kan? Takut dikasih harapan lagi sama seperti cowok yang tinggalkan kamu.
Pada saat kamu sudah mulai menyukai dia itu kan? (mantan gebetan Adinda). Nggak
semua cowok seperti itu Adinda”. Meta memberi nasehat agar adinda terbuka mata
hatinya supaya bisa move on dengan masa lalunya yang cukup menyedihkan. Adinda
hanya bisa diam membisu mendengarkan nasehat dari temannya itu.
Pada malam hari, Adinda masih bingung daftar. karena pada pamflet tersebut, hanya bisa
menghubungi lewat via SMS dan WA. Adinda, masih enggan untuk mendaftar karena
bimbang ia trauma dengan masalah yang pernah dia hadapi dulu. Suatu ketika, ia
ikut salah satu organisasi yang ada di kampusnya. Ia dekat sama seorang cowok
lumayan tampan namanya Reval kakak tingkatnya. sering memberi perhatian bahkan
pernah dikasih boneka. Tetapi, hanya sementara tau-taunya reval malah pacaran
sama orang lain. Disitulah adinda merasa dikasih Cuma harapan sama reval anggap
saja friendzone. Maka dari itu ia trauma lagi ikut organisasi karena nggak mau
terjebak lagi dengan masalah yang sama.
Pada akhirnya,
Adinda mencoba mendaftar anggota BEM. Dengan Terpaksa wa Lauzi kakak tingkatnya
terkenal memiliki banyak fans sebagian kaum hawa. Pesan terkirim, tunggu
balasan dari dia. Beberapa menit kemudian ada pesan masuk dari Lauzi.
“siap terima
kasih dek.
besok
jam 10 ambil formulirnya ya di sekret”. J
“iyaa.. kak besok
aku ambil formulir pas selesai kuliah ya”. Nggak pakai emot
“siap”.
Adinda read begitu saja
pesanya dari lauzi. Beberapa menit kemudian ada pesan masuk dari dia lagi.
Yaitu isi pesannya setengah modusin adinda dan setengahnya lagi minta tolong
nyebarin pamflet.
“iya adikku J
minta
tolong sebarin di group ya pamfletnya boleh?”
emot memohon.
“iyaaa..
siap nanti aku sebarin ya”. Emot ketawa.
“antara alay dan mau
ketawa. Sepertinya modus nih. Pasti cewek-cewek dimodusin sama orang tampan
seperti dia. Senanglah karena dia tampan. Sok akrab sekali, ketemu saja belum. Andai dia mukanya pas-pasan
kalau dimodusin bakalan tolak mentah-mentah wkwk. Sebaiknya aku banyak Tanya sama dia.
Sepertinya orangnya asyik kalau diajak chat”. Ungkap adinda di dalam hati.
Seketika adinda chat sama lauzi bermula dari sok akrab lama-lama jadi akrab.
Keesokan harinya, meta sama adinda ada di kelas. Meta
membuka pembicaraan “dinda, kamu sudah daftar ya? Yang Open recruitment anggota
bem?” meta bertanya. “sudah met, kamu sudah daftar juga?” adinda balik
bertanya. “sudah dong di kak lauzi. Tahu nggak kalau dichat suka kasih emot
senyum gitu. Pasti kalau ketemu langsung terus dia senyum aduhh.. tidak bisa
dengan ungkapin dengan kata-kata deh apalagi besok dia interview aku, aku nggak
bisa harus ngomong apa”. Meta kebanyakan berandai-andai akibat sudah terlalu
lama sendiri wkwk. “udah, nggak usah berandai-andai deh, cowok kayak gitu dia
bisanya apa coba. Ganteng tapi alay dan tukang modus ups”. Jawab adinda dengan
sinis.
Waktunya telah tiba. Interview anggota bem segera mulai
wkwk. Meta bersemangat sepertinya nggak sabaran mau interview. Sedangkan adinda
was-was ia berharap nggak interview sama
kakak tingkat yang ditaksir sama meta yang ganteng tapi alay dan tukang
modus. “nggak sabaran mau interview pokoknya aku harus Tanya balik”.
Ungkap meta dengan penuh harap. Seketika
meta melirik kearah adinda yang memakai masker sebelum berangkat ke kampus. “Adinda,
tumben kamu pakai masker? Kamu sakit? Perasaan semalam baik-baik saja deh”.
Tanya meta dengan kebingungan dengan sikap adinda yang aneh dari biasanya. “iya
nih, semalam mendadak pilek terus batuk. Kebanyakan minum es teh manis. Ia
terlalu manis esnya makanya aku batuk”. Jawab adinda dengan membunyikan
batuknya. Adinda sengaja memakai masker nanti pas wawancara kalau seandainya si
tukang modus (nggak sanggup nyebut namanya wkwk ntar deh pas dia ngomong) yang
interview.
Ketika adinda dan meta sudah berada di kampus. Seketika
meta histeris lihat lauzi berpapasan. “ohh.. ternyata itu orangnya. Tampannya,
mulus sekali kulitnya. Pasti perawatan nih. Din, kita langsung kesekret yuk.
Interview biar cepat selesai”. kata meta mengajak adinda ke sekret. Sontak saja
adinda langsung menolak ajakan meta dan langsung mau kabur. “nggak mau
interview, nggak mau interview”. Adinda langsung kabur dan meta kebingungan
dengan sikap adinda tidak seperti biasanya. Saat itu juga, lauzi nggak sengaja
mendengarkan pembicaraan mereka tadi di tempat yang sama.
Pada siang harinya, Adinda masih nggak mau
interview. Ia sengaja melihat sepatunya
dan ternyata belum pulang. “ihh.. pasti dia nggak bakalan pulang. Dugaan aku
benar. Dia bakalan interview aku.
Siap-siap pakai masker deh”. Ungkap adinda di dalam hati sambil memperbaiki
maskernya. Ketika berada sudah di sekret bersama dua orang cewek dan dua orang
cewek mau pergi karena sudah selesai. Perasaan adinda sudah bercampuk aduk dan
berkeringat dingin mau diinterview. Adinda membuka pembicaraan “halo..”. sambil
menyerahkan formulir. Dan dia melihat formulir melirik arahnya adinda. “bisa
buka maskernya nggak? Biar saya tahu, ntar kalau bertegur sapa biar nggak
canggung”. Dengan ekspersi penasaran ingin lihat wajahnya adinda. Dan adinda
masih enggan mau buka maskernya. “tapi, saya lagi batuk pilek loh. Takut
ketularan nanti”. Adinda sambil menbunyikan batuk sebenarnya ia pura-pura batuk.
“nggak apa-apa buka bentar saja maskernya. ntar tutup lagi deh. Jawab lauzi
agak sedikit memaksa. Pada akhirnya dengan terpaksa adinda membuka maskernya
dan dia terpukau agak lama melihat wajahnya adinda. “halo, kenapa melamun lihat
saya gitu ya? Jadi interview nggak nih?” adinda berusaha berhentikan lamunannya
dan ingin segera pergi, ia kembali pakai masker. “eeee.. nggak apa-apa kok.”
Dengan senyumnya (alay) sepertinya mulai modus nih sambil melihat formulirnya
“ternyata tanggalnya sama Cuma beda tahunnya. Ya.. beda setahunlah”. “iya ayo
deh cepatan interviewnya. Mau mendung nih ntar jemuran saya basah”. Kata adinda
ingin cepatan pergi dari sini. Dan ia panjang ngomong panjang lebar dan sok
akrab seperti waktu dichat wa. Dan hingga adinda pergi masih sempat melihat ia
pergi. Dan adinda langsung melupakan kejadian itu dengan cara tidur
senyenyak-nyenyaknya. Dan sepertinya nggak bakalan ikut lauching atau
pelantikan pengurus baru.
-SELESAI-

Komentar
Posting Komentar